PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM
I. Problem Pendidikan Anak
Yang menjadi permasalahan dalam mendidik anak adalah bukan bagaimana
mendidik anak secara efektif, tapi bagaimana menjadi orang tua yg efektif.
Anak adalah refleksi dari Orang Tuanya, anak juga merupakan representasi
dari keadaan suatu keluarga.
Ada pepatah guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau guru sudah
kencing berlari, mungkin si murid akan kencing sambil menari-nari. Artinya
dalam kondisi seperti itu anak akan mencontoh lebih buruk dari apa yg
dilakukan oleh orang-tuanya.
Dalam Islam pendidikan anak sudah dimulai sejak si anak berusia 4 bulan di
dalam kandungan, namun efektifnya setelah ia dilahirkan ke dunia yaitu
dengan diazankannya di telinga kanan dan Iqomah di telinga kiri.
Selama ini kesalahan dalam mendidik anak adalah terjebaknya kita dalam
masalah teknikal saja yaitu know how artinya bagaimana kita berbuat terhadap
anak kita supaya mereka dapat berbuat sesuai dengan yg diharapkan. Kita
jarang sekali berpikir Know Why, karena dengan itu akan dapat menentukan
paradigma yang benar mengenai bagaimana mendidik anak. Singkat kata dengan
segala potensi yg dimiliki si anak, orang-tua dapat membantu
mengembangkannya dengan paradigma yg benar.
Paradigma Pendidikan Dalam Islam :
1. Tarbiyyah Islamiyah.
Pendidikan Islam atau Tarbiyah Islamiah harus dapat mewujudkan pertumbuhan
atau Improvement. Karena dengan improvement si anak dapat mencapai
kedewasaan yang matang (maturity level). Ini menentukan bagaimana orang-tua
mentransfer kedewasaan yg dimilikinya kepada anaknya, hingga suatu saat
nanti si anak memiliki kedewasaan yg berimbang dengan orang tuanya. Ini
adalah salah satu tingkat kebahagiaan suatu keluarga di mana anak dan
orang-tua dapat berkomunikasi secara dewasa sehingga menghilangkan apa kita
sebut dengan barrier (dinding).
2. Development
Orang-tua harus dapat memberikan pemahaman kepada anaknya bahwa pada suatu
saat dirinya tidak dapat menanggung atau memenuhi apa-apa yg dibutuhkan oleh
anaknya. Artinya si anak pada saatnya nanti harus mampu hidup mandiri tanpa
bantuan dari orang-tuanya, apapun pekerjaan yang dikerjakan orang-tua tidak
berhak melarang atau mengarahkannya tetapi yg penting bagaimana dengan
pekerjaannya itu si anak dapat survive (bertahan hidup).
Untuk mencapai hal itu, maka stabilitas si anak secara intelektual, fisik,
emosional dan moral harus dapat dicover oleh orang-tuanya. Sukses dalam
mencapai sesuatu juga menjadi tanggung-jawab orang-tua terhadap anaknya.
Orang-tua juga harus dapat mengarahkan bahwa Kesuksesan yang telah dicapai
oleh si anak harus dapat dishare kepada orang lain agar orang lain tersebut
juga dapat mencapai sukses sehingga kesukesan tersebut dapat menjadi lebih
besar lagi, dalam Islam ini dikenal dengan Barokah.
3. Empowerment (Pemberdayaaan)
Yaitu bagaimana memfungsikan potensi-potensi yang dimiliki oleh si anak
sehingga anak dapat mencapai apa yang diinginkan tetapi bukan mencapai apa
keinginan orang-tuanya. Yang lebih penting kita harus dapat memberikan nilai
tambah kepada anak kita sehingga anak tidak menjadi seada-adanya, seadanya
saja, ada-ada saja tetapi lebih dari itu yaitu lebih dari adanya.
I. Problem Pendidikan Anak
Yang menjadi permasalahan dalam mendidik anak adalah bukan bagaimana
mendidik anak secara efektif, tapi bagaimana menjadi orang tua yg efektif.
Anak adalah refleksi dari Orang Tuanya, anak juga merupakan representasi
dari keadaan suatu keluarga.
Ada pepatah guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau guru sudah
kencing berlari, mungkin si murid akan kencing sambil menari-nari. Artinya
dalam kondisi seperti itu anak akan mencontoh lebih buruk dari apa yg
dilakukan oleh orang-tuanya.
Dalam Islam pendidikan anak sudah dimulai sejak si anak berusia 4 bulan di
dalam kandungan, namun efektifnya setelah ia dilahirkan ke dunia yaitu
dengan diazankannya di telinga kanan dan Iqomah di telinga kiri.
Selama ini kesalahan dalam mendidik anak adalah terjebaknya kita dalam
masalah teknikal saja yaitu know how artinya bagaimana kita berbuat terhadap
anak kita supaya mereka dapat berbuat sesuai dengan yg diharapkan. Kita
jarang sekali berpikir Know Why, karena dengan itu akan dapat menentukan
paradigma yang benar mengenai bagaimana mendidik anak. Singkat kata dengan
segala potensi yg dimiliki si anak, orang-tua dapat membantu
mengembangkannya dengan paradigma yg benar.
Paradigma Pendidikan Dalam Islam :
1. Tarbiyyah Islamiyah.
Pendidikan Islam atau Tarbiyah Islamiah harus dapat mewujudkan pertumbuhan
atau Improvement. Karena dengan improvement si anak dapat mencapai
kedewasaan yang matang (maturity level). Ini menentukan bagaimana orang-tua
mentransfer kedewasaan yg dimilikinya kepada anaknya, hingga suatu saat
nanti si anak memiliki kedewasaan yg berimbang dengan orang tuanya. Ini
adalah salah satu tingkat kebahagiaan suatu keluarga di mana anak dan
orang-tua dapat berkomunikasi secara dewasa sehingga menghilangkan apa kita
sebut dengan barrier (dinding).
2. Development
Orang-tua harus dapat memberikan pemahaman kepada anaknya bahwa pada suatu
saat dirinya tidak dapat menanggung atau memenuhi apa-apa yg dibutuhkan oleh
anaknya. Artinya si anak pada saatnya nanti harus mampu hidup mandiri tanpa
bantuan dari orang-tuanya, apapun pekerjaan yang dikerjakan orang-tua tidak
berhak melarang atau mengarahkannya tetapi yg penting bagaimana dengan
pekerjaannya itu si anak dapat survive (bertahan hidup).
Untuk mencapai hal itu, maka stabilitas si anak secara intelektual, fisik,
emosional dan moral harus dapat dicover oleh orang-tuanya. Sukses dalam
mencapai sesuatu juga menjadi tanggung-jawab orang-tua terhadap anaknya.
Orang-tua juga harus dapat mengarahkan bahwa Kesuksesan yang telah dicapai
oleh si anak harus dapat dishare kepada orang lain agar orang lain tersebut
juga dapat mencapai sukses sehingga kesukesan tersebut dapat menjadi lebih
besar lagi, dalam Islam ini dikenal dengan Barokah.
3. Empowerment (Pemberdayaaan)
Yaitu bagaimana memfungsikan potensi-potensi yang dimiliki oleh si anak
sehingga anak dapat mencapai apa yang diinginkan tetapi bukan mencapai apa
keinginan orang-tuanya. Yang lebih penting kita harus dapat memberikan nilai
tambah kepada anak kita sehingga anak tidak menjadi seada-adanya, seadanya
saja, ada-ada saja tetapi lebih dari itu yaitu lebih dari adanya.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda